Selasa, 24 Maret 2015

Review Melodi


Judul                      : Melodi
Penulis                   : Dedek Fidelis
Penyunting              : Dedik Priyanto
Penyelaras Akhir     : Diah Utami
Pendesain Sampul    : Fahmi Fauzi
Penata Letak            : Tri Indah Marty
Penerbit                    : Moka Media
Tebal/Ukuran            : 220 hlm/ 12,7 x 19 cm
ISBN                        : 979-795-904-X
Genre                        : Romance
Cover dan Sinopsis    :


                Bagi Kiara, kejutan datang bersama denting piano Pachelbel Canon In D yang dimainkan sosok pemuda di sebuah senja, sepersekian detik selanjutnya, ia jatuh cinta pada pemuda itu.
Namun, saat Kiara merasa telah menemukan cinta pertamanya, ia justru mengalami kecelakaan. Kiara berpikir ia sudah meninggal, tapi sesuatu yang tidak pernah ia percaya terjadi. Kiara mengalami perjalanan waktu; berpindah ke masa depan dan berjumpa dengan banyak hal yang tak pernah ia bayangkan.
Lalu, apakah cinta Kiara menghilang begitu saja seperti halnya waktu yang acapkali menipu?
                                                                                               
                                         Gio
Tidak peduli berapa kali aku akan terlahir kembali dan bertemu denganmu, tidak peduli di mana dan bagaimana kelak kita akan berjumpa, aku aka selalu jatuh cinta kepadamu. Lagi. Dan lagi.
                                        Kiara
Kau masih ingat cinta pertamamu? Aku masih. Dan cinta pertama dalam hidupku hadir dari waktu yang tidak mungkin lagi kita bertemu.

Begitulah sinopsisnya, menarik. Dan membuat kita penasaran bagaimana pengalaman Kiara yang mengalami perjalanan waktu sehingga mengakibatkan dirinya bisa berpindah ke masa depan. Novel ini menceritakan tentang cinta pertama. Semua pasti pernah merasakan sensasi cinta pertama. Ada yang cinta pertama nya berakhir bahagia, tapi tidak sedikit juga yang cinta pertamanya tidak berjalan dengan mulus dan sukses. Di novel ini kita akan diajak berpindah dari masa sekarang, masa-yang-dialami-Kiara, ke masa depan, kemudian kembali lagi ke masa lalu, dan akhirnya berakhir di masa sekarang, masa-yang-dialami-Gio.
Seperti yang ada di sinopsis, ketika Kiara sudah merasa dan menemukan cinta pertamanya, ia justru mengalami kecelakaan yang mengakibatkan dirinya koma, dan berpindah ke masa depan. Awalnya saya fikir mungkin keren karena  bisa berpindah dari satu masa, ke masa lainnya, apalagi berpindahnya ke masa depan. Kan asyik, hal yang sebelumnya nggak pernah tahu dan nggak pernah duga di masa depan, kita sudah mengetahuinya. Dan kalo misalnya kita kembali lagi ke masa lalu kan jadi bisa diceritain ke temen-temen dan keluarga apa yang akan terjadi di masa depan. Istilahnya nanti kita bakalan jadi cenayang dadakan karena udah tau masa depan duluan dibandingkan yang lainnya hehehe. Tapi setelah menuntaskan membaca ini, fikiran itu berubah. Saya nggak mau bisa pindah ke masa depan kalo pada akhirnya saya nggak bisa merasakan indahnya hidup ini lagi. Biarkan lah masa depan jadi misteri, jalani aja masa yang sekarang. Lagian kan nggak baik juga mendahului sang pencipta.
Cerita di novel ini ya nggak jauh-jauh tentang percintaan ya, karena tema nya sendiri pun tentang cinta pertama, otomatis cerita yang dikembangkan ya seputar itu. Tentang indah dan manisnya perjumpaan pertama dengan cinta pertama, tentang pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan tapi akan ada pengganti dari cinta yang bertepuk sebelah tangan itu, tentang pengalaman mencari dan menemukan dalam sebuah perjalanan cinta, dan tentang kebesaran hati saat ditinggal oleh cinta pertama. Kiara ini orang nya mungil, padahal makan nya banyak banget, bisa dua kali dari ukuran normal, tapi badannya segitu-gitu aja nggak bisa gede. Kan enak, semua perempuan pasti pengen kaya gitu, makan nggak dibatasi tapi badan juga nggak tumbuh banyak lemak. Setelah Kiara mengalami kecelakaan dan koma, dirinya pun tersadar, tapi sadarnya bukan di tahun 2011 (tahun saat Kiara mengalami kecelakaan) melainkan di tahun 2013. Iya 2013, yang artinya adalah masa depan. Dan saat itulah dia bertemu dengan Gio. Pahlawannya. Gio menawari Kiara untuk tinggal bersamanya di apartement miliknya. Karena Kiara tidak tahu harus pergi kemana, akhirnya dia menyetujui untuk tinggal selama sementara sampai dia tahu bagaimana caranya untuk pulang, pulang ke masanya. Dari sini cerita bergulir dengan asyik. Saking asyiknya sampe Kiara baru tersadar bahwa dirinya jatuh cinta pada Gio, cowok sedingin es dan cuek tapi berubah hangat jika sudah berdua dengannya. Hari-hari Kiara begitu menyenangkan jika dilalui bersama Gio. Sampai akhirnya masing-masing dari mereka sadar bahwa cepat atau lambat pasti perpisahan akan segera menyapa mereka, dan mereka harus sudah siap dengan kemungkinan itu.
Perlu diketahui, kisah di novel ini sangat unik dan ceritanya ngalir banget. Saya aja cuma membutuhkan waktu 4 jam untuk menuntaskan novel ini. Rekor banget kaaann? Maksudnya rekor untuk saya pribadi. Soalnya biasanya saya membaca itu bisa 2 hari, (karena kan diselingi sama kerjaan rumah juga dan segala tetek bengek lainnya yang nggak bisa ditinggali) dan mau novel itu tipis banget juga kalo ceritanya nggak seru, pasti bakalan lama juga menghabiskannya. Tapi berbeda dengan novel yang berjudul Melodi ini.
               
           Dan ini ada beberapa Quote yang menurut saya menarik :
  • ·         Cinta itu adalah hal yang paling sederhana namun akan terasa istimewa bila bersama dengan orang yang tepat – hlm 118
  • ·         Untuk merasakan indahnya pulang, katanya seseorang harus berpisah dan pergi – hlm 118
  • ·         Waktu akan terus berputar. Manusia terus berubah. Segala sesuatu terus silih berganti. Tapi akan ada beberapa hal yang tidak akan pernah berubah – hlm 123
  • ·         Yang terpenting dari hidup kita bukanlah mencemaskan masa depan atau mencoba melupakan masa lalu. Yang terpenting adalah masa sekarang ini, masa dimana lo hidup. – hlm 140
  • ·         Terkadang hidup memberikan kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah kita duga sebelumnya – hlm 188
  • ·         Cinta pertama. Cinta tanpa syarat. – hlm 217


           Sedikit kritik, didalam novel ini kan ada sedikit membahas tentang gubernur lama (Fauzi Bowo) dan gubernur baru (Joko Widodo). Nah di novel ini si tokoh yang ada didalamnya mengidolakan Joko Widodo. Ya nggak salah sih, kan semua orang punya idolanya masing-masing. Tapi menurut saya lebih baik nggak usah dibicarain, soalnya kan namanya hidup pasti ada pro dan kontra, dan pastinya ada yang suka dan tidak suka dengan Jokowi. Bayangin kalo misalnya pas yang lagi baca novel ini tuh nggak begitu suka dengan Jokowi, dan akhirnya dia nggak mau menuntaskan baca novel ini, gimana? Terus dia cerita-cerita ke temennya yang ngga begitu suka juga sama Jokowi. Kan bahaya, bisa-bisa orang yang tadinya pengen baca, terus terhasut dan akhirnya nggak jadi baca dan beli. Kalo saya sendiri sih nggak begitu masalah, buktinya saya bisa menuntaskan membaca novel ini. Dan lagi, hanya 4 jam. Kritiknya sih cuma itu aja, selebihnya keren kok. Covernya juga cantik. Apalagi ada sesosok pria yang lagi main piano tapi menghadap ke belakang, kesannya jadi misterius dan bikin penasaran.

4 BlueBook untuk novel ini ^^



1 komentar: