Judul :
Melodi
Penulis :
Dedek Fidelis
Penyunting :
Dedik Priyanto
Penyelaras Akhir :
Diah Utami
Pendesain Sampul :
Fahmi Fauzi
Penata Letak :
Tri Indah Marty
Penerbit :
Moka Media
Tebal/Ukuran :
220 hlm/ 12,7 x 19 cm
ISBN :
979-795-904-X
Genre : Romance
Cover dan Sinopsis :
Bagi
Kiara, kejutan datang bersama denting piano Pachelbel
Canon In D yang dimainkan sosok pemuda di sebuah senja, sepersekian detik
selanjutnya, ia jatuh cinta pada pemuda itu.
Namun, saat Kiara merasa telah menemukan cinta pertamanya,
ia justru mengalami kecelakaan. Kiara berpikir ia sudah meninggal, tapi sesuatu
yang tidak pernah ia percaya terjadi. Kiara mengalami perjalanan waktu;
berpindah ke masa depan dan berjumpa dengan banyak hal yang tak pernah ia
bayangkan.
Lalu, apakah cinta Kiara menghilang begitu saja seperti
halnya waktu yang acapkali menipu?
Gio
Tidak peduli berapa
kali aku akan terlahir kembali dan bertemu denganmu, tidak peduli di mana dan
bagaimana kelak kita akan berjumpa, aku aka selalu jatuh cinta kepadamu. Lagi.
Dan lagi.
Kiara
Kau masih ingat cinta
pertamamu? Aku masih. Dan cinta pertama dalam hidupku hadir dari waktu yang
tidak mungkin lagi kita bertemu.
Begitulah sinopsisnya, menarik.
Dan membuat kita penasaran bagaimana pengalaman Kiara yang mengalami perjalanan
waktu sehingga mengakibatkan dirinya bisa berpindah ke masa depan. Novel ini
menceritakan tentang cinta pertama. Semua pasti pernah merasakan sensasi cinta
pertama. Ada yang cinta pertama nya berakhir bahagia, tapi tidak sedikit juga
yang cinta pertamanya tidak berjalan dengan mulus dan sukses. Di novel ini kita
akan diajak berpindah dari masa sekarang, masa-yang-dialami-Kiara, ke masa
depan, kemudian kembali lagi ke masa lalu, dan akhirnya berakhir di masa
sekarang, masa-yang-dialami-Gio.
Seperti yang ada di sinopsis,
ketika Kiara sudah merasa dan menemukan cinta pertamanya, ia justru mengalami
kecelakaan yang mengakibatkan dirinya koma, dan berpindah ke masa depan.
Awalnya saya fikir mungkin keren karena
bisa berpindah dari satu masa, ke masa lainnya, apalagi berpindahnya ke
masa depan. Kan asyik, hal yang sebelumnya nggak pernah tahu dan nggak pernah
duga di masa depan, kita sudah mengetahuinya. Dan kalo misalnya kita kembali
lagi ke masa lalu kan jadi bisa diceritain ke temen-temen dan keluarga apa yang
akan terjadi di masa depan. Istilahnya nanti kita bakalan jadi cenayang dadakan
karena udah tau masa depan duluan dibandingkan yang lainnya hehehe. Tapi
setelah menuntaskan membaca ini, fikiran itu berubah. Saya nggak mau bisa
pindah ke masa depan kalo pada akhirnya saya nggak bisa merasakan indahnya
hidup ini lagi. Biarkan lah masa depan jadi misteri, jalani aja masa yang
sekarang. Lagian kan nggak baik juga mendahului sang pencipta.
Cerita di novel ini ya nggak
jauh-jauh tentang percintaan ya, karena tema nya sendiri pun tentang cinta
pertama, otomatis cerita yang dikembangkan ya seputar itu. Tentang indah dan
manisnya perjumpaan pertama dengan cinta pertama, tentang pahitnya cinta
bertepuk sebelah tangan tapi akan ada pengganti dari cinta yang bertepuk
sebelah tangan itu, tentang pengalaman mencari dan menemukan dalam sebuah
perjalanan cinta, dan tentang kebesaran hati saat ditinggal oleh cinta pertama.
Kiara ini orang nya mungil, padahal makan nya banyak banget, bisa dua kali dari
ukuran normal, tapi badannya segitu-gitu aja nggak bisa gede. Kan enak, semua
perempuan pasti pengen kaya gitu, makan nggak dibatasi tapi badan juga nggak
tumbuh banyak lemak. Setelah Kiara mengalami kecelakaan dan koma, dirinya pun
tersadar, tapi sadarnya bukan di tahun 2011 (tahun saat Kiara mengalami
kecelakaan) melainkan di tahun 2013. Iya 2013, yang artinya adalah masa depan.
Dan saat itulah dia bertemu dengan Gio. Pahlawannya. Gio menawari Kiara untuk
tinggal bersamanya di apartement miliknya. Karena Kiara tidak tahu harus pergi
kemana, akhirnya dia menyetujui untuk tinggal selama sementara sampai dia tahu
bagaimana caranya untuk pulang, pulang ke masanya. Dari sini cerita bergulir
dengan asyik. Saking asyiknya sampe Kiara baru tersadar bahwa dirinya jatuh
cinta pada Gio, cowok sedingin es dan cuek tapi berubah hangat jika sudah
berdua dengannya. Hari-hari Kiara begitu menyenangkan jika dilalui bersama Gio.
Sampai akhirnya masing-masing dari mereka sadar bahwa cepat atau lambat pasti
perpisahan akan segera menyapa mereka, dan mereka harus sudah siap dengan
kemungkinan itu.
Perlu diketahui, kisah di novel
ini sangat unik dan ceritanya ngalir banget. Saya aja cuma membutuhkan waktu 4
jam untuk menuntaskan novel ini. Rekor banget kaaann? Maksudnya rekor untuk
saya pribadi. Soalnya biasanya saya membaca itu bisa 2 hari, (karena kan
diselingi sama kerjaan rumah juga dan segala tetek bengek lainnya yang nggak
bisa ditinggali) dan mau novel itu tipis banget juga kalo ceritanya nggak seru,
pasti bakalan lama juga menghabiskannya. Tapi berbeda dengan novel yang
berjudul Melodi ini.
Dan ini
ada beberapa Quote yang menurut saya menarik :
- · Cinta itu adalah hal yang paling sederhana namun akan terasa istimewa bila bersama dengan orang yang tepat – hlm 118
- · Untuk merasakan indahnya pulang, katanya seseorang harus berpisah dan pergi – hlm 118
- · Waktu akan terus berputar. Manusia terus berubah. Segala sesuatu terus silih berganti. Tapi akan ada beberapa hal yang tidak akan pernah berubah – hlm 123
- · Yang terpenting dari hidup kita bukanlah mencemaskan masa depan atau mencoba melupakan masa lalu. Yang terpenting adalah masa sekarang ini, masa dimana lo hidup. – hlm 140
- · Terkadang hidup memberikan kejutan-kejutan kecil yang tidak pernah kita duga sebelumnya – hlm 188
- · Cinta pertama. Cinta tanpa syarat. – hlm 217
Sedikit kritik, didalam novel ini kan ada sedikit membahas
tentang gubernur lama (Fauzi Bowo) dan gubernur baru (Joko Widodo). Nah di
novel ini si tokoh yang ada didalamnya mengidolakan Joko Widodo. Ya nggak salah
sih, kan semua orang punya idolanya masing-masing. Tapi menurut saya lebih baik
nggak usah dibicarain, soalnya kan namanya hidup pasti ada pro dan kontra, dan
pastinya ada yang suka dan tidak suka dengan Jokowi. Bayangin kalo misalnya pas
yang lagi baca novel ini tuh nggak begitu suka dengan Jokowi, dan akhirnya dia
nggak mau menuntaskan baca novel ini, gimana? Terus dia cerita-cerita ke
temennya yang ngga begitu suka juga sama Jokowi. Kan bahaya, bisa-bisa orang
yang tadinya pengen baca, terus terhasut dan akhirnya nggak jadi baca dan beli.
Kalo saya sendiri sih nggak begitu masalah, buktinya saya bisa menuntaskan
membaca novel ini. Dan lagi, hanya 4 jam. Kritiknya sih cuma itu aja,
selebihnya keren kok. Covernya juga cantik. Apalagi ada sesosok pria yang lagi
main piano tapi menghadap ke belakang, kesannya jadi misterius dan bikin
penasaran.
4 BlueBook untuk novel ini ^^
Diikutkan dalam #ReviewMaret @momo_DM @danissyamra @ridoarbain di https://bianglalakata.wordpress.com/2015/03/03/reviewmaret-ayo-me-review-buku-fiksi/

kirimkan juga ke medansastra.esy.es
BalasHapus